RTRW 2010-2030: Jalur Sepeda Diloloskan


Jakarta, Kompas - DPRD DKI Jakarta akhirnya memasukkan jalur sepeda dan jalur pejalan kaki dalam Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta 2010-2030. Selama ini kedua jalur itu dianaktirikan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan hampir diabaikan lagi untuk 20 tahun mendatang.

Ketua Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI Jakarta Triwisaksana, Kamis (13/1) di Jakarta Pusat, mengatakan, RTRW sebagai patokan pembangunan 20 tahun mendatang harus memasukkan jalur transportasi nonmesin. Transportasi nonmesin sangat ramah lingkungan dan dapat mengatasi macet.

”Pemprov DKI harus menyediakan jalur sepeda dan jalur pejalan kaki di setiap jalan protokol. Faktor keamanan dan kenyamanan harus dipikirkan oleh DKI,” kata Triwisaksana.

Dengan payung hukum RTRW, Pemprov DKI dipaksa segera mewujudkan jalur sepeda dan jalur pejalan kaki. Selama ini jalur sepeda tidak tersedia dan jalur pejalan kaki diokupasi oleh pedagang kaki lima.

Anggota Koalisi Traffic on Demand, Ahmad Safrudin, mendukung langkah Balegda DPRD itu. Selama ini jalanan Jakarta tidak manusiawi karena hanya mementingkan kendaraan bermotor dan mengesampingkan pengguna sepeda dan pejalan kaki.

Dampaknya, jalanan makin lama makin macet dan polusi udara kian parah.

Di sisi lain, penyediaan jalur sepeda dan jalur pejalan kaki yang layak dapat mendukung pengoperasian angkutan massal. Semua penumpang yang akan menuju atau meninggalkan moda angkutan massal dapat berjalan kaki atau menggunakan sepeda dengan nyaman. Jika hal itu terwujud, program pengurangan kemacetan dengan angkutan massal bakal lebih efektif. (ECA)

Sumber: Kompas, 14 Januari 2011
Foto: kompas.com
lanjut baca..

Matinya Ekspor Kereta Angin

Inilah profil industri sepeda pascatuduhan dumping

Gara-gara sanksi yang dijatuhkan ME, dua pabrik sepeda gulung tikar.
Pasar dalam negeri sebenarnya masih sangat luas. Tapi, para eksportir
tetap akan menuntut agar sanksi itu dicabut.

Setelah mengalami masa jaya lebih dari lima tahun, industri sepeda kini
tak ubahnya pembalap yang nyaris mencapai garis finis, terengah-engah.
Soalnya, sejak Masyarakat Eropa (ME) menuding para produsen melakukan
aksi dumping, produk Indonesia langsung kehilangan daya saing. Maklum,
tuduhan itu telah menyebabkan negara pengimpor mengambil tindakan dengan
membebani sepeda yang masuk ke negeri mereka dengan bea masuk dan denda
berupa pajak. Jika sebelumnya sepeda Indonesia yang diekspor ke sana
bebas dari segala jenis pajak dan bea, sejak 1994 terkena bea masuk
sebesar 11,7% plus denda sebesar 28,4%.

Akibatnya, seperti yang terlihat pada statistik penjualan ekspor,
penjualan sepeda Indonesia ke ME menukik tajam. Jika pada 1992 hingga
1995 si roda dua masih terjual minimal 23 juta unit setahun, tahun lalu
merosot hingga tinggal 5,3 juta buah saja alias turun 77%. Padahal, 14
negara anggota ME ini merupakan pasar sepeda terbesar bagi Indonesia.
Sebelum penurunan yang drastis itu terjadi, 75% sepeda ekspor Indonesia
dijual ke negara-negara tersebut. Kini peran ME cuma tinggal 36% dari
total ekspor.

Buntut dari gebrakan ME ini sungguh mudah ditebak. Hanya kurang dari
setahun, sejak tarif ekstra berupa denda dumping ditetapkan, beberapa
produsen Ð terutama yang mengandalkan pasar ekspor -- langsung
kelimpungan. Federal Cycle Mustika (FCM) misalnya, yang terkenal dengan
sepeda Federalnya, mengundurkan diri karena menganggap bisnis ini tak
lagi menguntungkan. Begitupun Toyo Asahi, sejak tahun lalu sudah
hengkang dari arena dagang sepeda. "Sebenarnya, sayang juga
meninggalkan bisnis ini, karena kami memulainya dari nol. Tapi, apa
boleh buat, dengan pajak dan denda sebesar itu, sepeda jadi tak
menguntungkan lagi," kata Andi Hendrardi, Direktur FCM.

Yang kecil-kecil tanpa pajak pasti menang
Betul, sejak dihajar sanksi tuduhan dumping, sepeda buatan FCM tak lagi
mampu bersaing dengan sepeda-sepeda produksi Taiwan dan Italia. Tapi,
satu hal yang mengherankan Andi, kenapa Italia yang menjual produknya di
bawah harga jual Federal tidak dikenai sanksi. Selain itu, FCM juga
merasa penasaran dengan tuduhan tersebut. Karena pihaknya tidak merasa
menjual lebih murah daripada harga di pasar lokal.

Di dalam negeri, FCM menjual sepedanya dengan harga sekitar Rp 150.000
per unit. Ini jelas tak jauh berbeda dengan harga jual ekspornya yang
US$ 72. Memang, ada beberapa jenis sepeda yang harganya sangat mahal.
Tapi, itu lantaran kelasnya jauh lebih tinggi ketimbang yang diekspor.
Model Competition, misalnya, dijual dengan harga Rp 1,25 juta.

Kini, karena tak mampu lagi bersaing, FCM bertekad untuk keluar dari
ajang bisnis sepeda. Bahkan, beberapa mesin pencetak rangkanya telah
ditawar PT Wijaya Indonesia Makmur (produsen sepeda WIM). Jadi tak
berbeda dengan nasib produsen sepeda di Malaysia dan Taiwan. Mereka
juga, gara-gara sanksi dumping, terpaksa melego mesin-mesin produksinya
ke Vietnam dan Srilangka.

Tekad untuk mundur ini tampaknya sudah bulat benar. Kendati pemerintah
(terutama BKPM), menurut Andi, berusaha membujuk FCM untuk tetap
bertahan. Soalnya, bukan cuma di pasar ekspor industri sepeda kena
gebuk. Di pasar domestik pun nasibnya tak lebih baik. Lihat saja
buktinya. Di dalam negeri, FCM tidak hanya bersaing dengan sesama
produsen besar, tapi juga harus berhadapan dengan bengkel-bengkel kecil
dan toko-toko yang melakukan perakitan sendiri. "Yang kecil-kecil itu
pasti mampu mengalahkan kami, karena mereka tidak membayar PPN yang
10%," kata Andi.

Bagi FCM, menutup warung sepeda bukan masalah besar. Soalnya, dulu
mereka terjun ke bisnis ini juga lantaran terdesak keadaan. Waktu itu,
tahun 1986, pasar sepeda motor sedang berada pada titik terendah. Tak
terkecuali penjualan Honda yang diproduksi Federal. Nah, untuk
menghindari PHK atas 500 karyawannya, produsen sepeda motor ini
melakukan diversifikasi usaha dengan memproduksi sepeda.

Ternyata sukses. Hanya dalam waktu dua tahun sepeda buatannya langsung
populer di kalangan konsumen. Ini berkat gencarnya promosi yang
dilakukannya, yang menghabiskan biaya sampai Rp 2 miliar setahun.
Sekarang, ketika langkah si roda dua dihambat sanksi dumping, FCM
"dengan senang hati" mundur dari percaturan bisnis. Apalagi, pasar
sepeda motor kini sedang marak, sehingga 500-an karyawan dari pabrik
sepeda kembali termanfaatkan. "Jadi, kami memang sudah sibuk. Dan, yang
penting, tidak usah serakahlah," kata Andi.

Pasar lokal sebenarnya masih terbuka lebar
Jika FCM bisa dengan mudah membanting setir, lantas bagaimana dengan
nasib 200-an karyawan Toyo Asahi? Wallahualam. Yang jelas, beberapa
produsen eksportir berusaha mengalihkan pasar mereka dari terkaman
sanksi dumping ME. PT Jawa Perdana, misalnya, kini telah memperoleh
pasar pengganti, yakni Jepang. Sedangkan WIM, terlihat sedang berkutat
menggarap pasar dalam negeri untuk menggantikan posisi yang ditinggalkan
Federal.

Pasar domestik sendiri, sebenarnya, masih sangat luas untuk digarap.
Menurut Andi, populasi sepeda di Indonesia saat ini baru 1:12. Jadi
masih jauh di bawah Cina yang populasinya mencapai 1:3,4 atau Belanda
yang 1:1,05.

Tapi, pengalihan pasar itu tidak menggambarkan eksportir Indonesia
menyerah pada tuduhan ME. "Kami sudah meminta agar ME meninjau kembali
tuduhan dumpingnya," kata Prihadi, Ketua AIPI (Asosiasi Industri
Persepedaan Indonesia). Selain mengajukan protes langsung ke ME, AIPI
juga telah mengadukan penderitaannya pada Komisi Anti-Dumping Indonesia
(KADI)

Hasilnya? Kita lihat nanti. Yang jelas, pihak KADI sendiri tak tinggal
diam. Mereka kini tengah mengumpulkan fakta untuk membuktikan kebenaran
tuduhan ME. "Kalau kelak terbukti tuduhan itu tidak benar, kami akan
meminta agar ME meninjau kembali keputusannya," kata Taufiek Abbas,
Wakil Ketua KADI.

(Budi Kusumah, Hendrika Y, Marga Raharja)

Sumber: Kontan, arsip dari milis apakabar

lanjut baca..

Sepedaku



Detailed specs:

Model name : Heist 1.0
Type hybrid : Shimano tourney 21 sp (16 sp)
Size : 43
Color : Silver
Frame : Alutech hybrid frame
Fork : Hi-ten trekking fork
Handlebar : Steel (bull horn)
Stem : Steel
Headset : Polygon
Saddle : Polygon (wtb)
Seatpost : Polygon ssx alloy
Chainwheel : SR XCC 48tx38tx28t (shimano double chainring)
Bottom bracket : Cartridge sealed bearing
Chain : KMC Z50 (shimano)
Cassette sprocket : Shimano tourney 14-28t freewheel (shimano 8 sp freehub)
Shifting lever : Shimano - rapid shifter (shimano for 8 sp)
Brake lever : Shimano
Front derailleur : Shimano tourney
Rear derailleur : Shimano tourney
Front brake : Alloy v-brake
Rear brake : Alloy v-brake
Pedal : Alloy
Tyre : Kenda 700x38c
Tube : AV valve
Rim : Alloy single wall
Spoke : Steel
Front hub : Steel 36h (shimano 36h for 8 sp)
Rear hub : Steel 36h (shimano 36h for 8 sp)
Fender : (front & rear modif)

* dalam kurung = modif

lanjut baca..

Bersepeda BMX ke Kantor, Siapa Niat?



Pada sebuah perhentian lampu merah Bypass, saya bertemu dengan seorang muda dengan sepeda BMX-nya. Saya pikir dia hanya melancong ke tempat kawan yang dekat-dekat saja, tidak seperti saya yang bersepeda ke tempat kerja. Seperti biasa saya luangkan waktu untuk ngobrol bila bertemu dengan sesama pesepeda maupun tukang gorengan bergerobak. Sungguh terkejut ketika dia katakan rute gowesnya dari Pondok Kopi ke daerah perkantoran Kuningan!

Melihat rute bersepedanya saja sudah cukup jauh. Tapi masalahnya ini dilakoninya dengan BMX yang bila digowes dengkulnya bisa nyentuh perut! Yang saya salut adalah semangatnya yang luar biasa. Rute ini dilaluinya dengan riang gembira sambil memasang headset di telinganya, mendengarkan musik :)

Penasaran dengan gaya gowesnya, saya tunggu sampai lampu berganti hijau. Seperti yang sudah diduga, untuk melintas dengan cepat di sebuah simpang lampu merah, dia langsung genjot sambil berdiri. Ini dilakukan buat melahap jalanan yang sedikit menanjak untuk masuk ke Utan Kayu, namun untuk model BMX tentu bukan perkara mudah.

Kami terus ngobrol sampai Pramuka, karena dia kemudian mengambil jalur cepat untuk kemudian masuk kolong. Jalur yang cukup berbahaya karena bertemu dengan mesin-mesin beroda empat. Bukan itu saja, yang namanya terowongan, pasti ada turunan dan kemudian...ya, tanjakan yang aduhai. Saya bilang aduhai karena dilalui dengan BMX yang hanya bermodalkan satu gir saja.

Sebagai catatan, BMX yang ditunggangi sangat sederhana, tidak ada upgrade komponen di sana-sini. Jadi memang benar apa kata orang bijak, bersepeda itu didorong oleh niat, tidak peduli apakah sepeda kita itu murah atau mahal. Selain itu, menemani pesepeda di jalan raya yang tak ramah walau hanya sesaat, terasa hangat karena adanya rasa kebersamaan antar sesama pesepeda :) (raymond, unite-indonesia.blogspot.com)

Foto: http://anakbmxcomunity.blogspot.com/

lanjut baca..

Fun Bike dan Real Estate Perusak Alam


Suatu kali saya menawarkan event funbike keliling kota ke seorang kawan. Saya bilang event funbike ini gratis, jadi membernya pun gratis pula. Sekali mendaftar, akan secara otomatis mendapat nomor keanggotaan. Kemudian menawarkan berbagai macam fasilitas dan kemudahan. Pendaftarannya pun bisa dilakukan secara online di internet. Tak ada batasan pula dalam mendaftar sebagai member, bisa sebanyak mungkin orang.

Dalam setiap eventnya pun mendapatkan snack dan minuman secara lagi-lagi gratis. Seperti event funbike lainnya, juga digelar doorprize seperti televisi, sepeda lipat dan sepeda MTB buatan Swiss.

Lalu apa pasal penolakan kawan saya? Katanya penyelenggaranya adalah perusahaan real estate yang sudah 30-an tahun didirikan ini ternyata merusak lingkungan. Lihat saja pembangunan mall, apartemen, perkantoran dan perumahan yang dilakukan telah menghilangkan daerah resapan air di Jakarta.

Salah satu area yang dibangun berada di bagian utara Jakarta yang telah jadi kawasan elite. Dahulunya daerah ini adalah rawa-rawa yang sebelumnya menjadi tempat parkir air. Tapi kini daerah itu tidak ada lagi karena telah disulap jadi perumahan dan mall. Maka tidaklah heran bila Jakarta menjadi langganan banjir karena pembangunan yang tidak bersahabat dengan alam.

Pembangunan skala besar ini juga menggusur ruang terbuka hijau dan menjadikan Jakarta jadi gersang, tidak bisa menyerap polusi dari kendaraan bermotor. Paru-paru kota menjadi bolong, membuat warganya jadi sesak untuk bernafas perlahan namun pasti. Ini bisa dilihat dari kualitas udara di ibukota yang semakin buruk setiap tahunnya.

Mall dan perkantoran yang dibangun juga telah menyedot air tanah di luar batas per harinya. Ini penyebab habisnya air tanah di Jakarta, yang kemudian jadi penyebab amblasnya permukaan tanah. Bila sudah demikian, air laut semakin masuk lebih jauh lagi tidak hanya samapi di tengah kota, bahkan akan sampai kawasan selatan Jakarta. Air tanah akan jadi asin dan tidak layak untuk dikonsumsi. Yang lebih parah lagi, Jakarta akan tenggelam lambat laun karena datarannya semakin rendah dan semakin sulit pembuangan air ke laut.

Seandainya, perusahaan pengembang properti ini menyediakan sepeda gratis juga bagi para peserta funbike, memberikan perumahan bagi korban banjir, mewajibkan pegawainya bersepeda (termasuk direkturnya) setiap hari, apakah kiranya kawan saya ini akan berubah pikiran? (raymond, unite-indonesia.blogspot.com)

Foto: inilah.com/Agung Rajasa

lanjut baca..